MAKALAH
TAFSIR TARBAWI
“ TIDAK PUTUS ASA “
Dosen pembimbing : Drs. Asnawi AR
Disusun oleh :
ELIS MIARTI
Nim : T. PAI. 1. 2012. 037
Lokal IV A
Jurusan Tarbiyah
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH
MAULANA QORI BANGKO
TAHUN
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Optimisme
adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang
bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Seorang yang bermental sebagai
seorang pemenang, ia akan memiliki rasa percaya diri, ia bersungguh-sungguh dan
yakin akan usahanya tersebut. Inilah sisi lain dari makna tawakal. Setiap kali
ia diterpa oleh badai tantangan, segeralah ia memperbaiki dan dan membenahi
diri, melakukan evaluasi lahir bathin seraya melemparkan pertanyaan yang
membedah hati nuraninya. Dalam segala hal dia tidak pernah mencari kambing
hitam dan tidak ada kamus “pesimis” karena tidak akan menolong dirinya kecuali
menambah beban untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
Penjelasan dari Q.S Yusuf/12: 87 dan Q.S AL-Hijr/5 : 52-56 tentang ketidak
Putusasaan ?
2.
Apa
Nilai-Nilai Pendidikan yang dapat kita Ambil ?
BAB II
PEMBAHASAN
TIDAK PUTUS ASA
A.
Q.S
Yusuf/12 : 87
87.
Wahai anak-anakku! Pergilah dan intiplah kabar berita mengenai Yusuf dan
saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta
pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan
Allah itu melainkan kaum yang kafir".
J
Penjelasan
Orang yang putus asa berarti ia tidak lagi bisa mempercayai
dirinya sendiri. Hal ini merupakan hal yang paling berbahaya karena
keputusasaan datang dari dalam hati seseorang. Sesuatu yang datangnya dari
luar, sejalan dengan waktu dapat disingkirkan, tetapi apa yang terjadi di dalam
hidup manusia, hanya orang yang bersangkutan itulah yang bisa menyelesaikannya.
Berapa banyak orang yang putus asa, yang kehilangan kepedean terhadap dirinya
sendiri, dan kemudian merasakan letih lesu, lunglai sehingga merasa tak ada
lagi yang dapat dilakukan selain mengakhiri hidupnya.
Perlu kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya agama islam
memerintahkan kepada kita semua agar kita percaya diri dan tidak putus asa
dalam mencari rahmat dan hidayah Allah SWT. Kita sebagai manusia wajib ikhtiar
kepada Allah SWT karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Sebagaimana pesan Nabi Yakub As kepada anak-anaknya dalam
mencari saudaranya Yusuf serta Bunyamin. Pada ayat tersebut diatas pesan nabi
Yakub As bukan saja memerintahkan kepada anak-anaknya untuk terus berharap dan
perrcaya diri serta tidak putus asa dalam mencari saudaranya, tetapi ada
pesan kepada kita semua agar percaya diri dan tidak putus asa dalam mencari
rahmat Allah SWT.
Kata “Rauh” dari ayat tersebut lebih dalam makna
dan takaranya serta lebih banyak kandunganya, didalamnya mengandung naungan
tempat beristirahat dari musibah yang mencekik dengan apa yang menghibur jiwa.
Maka dari itu orang-orang yang beriman selalu berhubungan dengan Allah, yang
menghidupkan dan menyemangatinya. Mereka itu tidak pernah putus asa dari rahmat
Allah, walaupun mereka diliputi oleh segala musibah yang menghampirinya, karena
mereka dalam ketenangan kepercayaan terhadap Allah SWT.
Dari ayat diatas bahwa Yakub sebagai orang tua yang tentunya
banyak memiliki pengalaman dan kesabaran juga ilmu yang tinggi. Penulis
berpendapat bahwa pesan percaya diri dan tidak putus asa bukan saja ditunjukan
bagi orang tua kepada anaknya, orang yang lebih tua kepada yang lebih muda,
tetapi juga pesan yang disampaikan dari orang yang berilmu baik tua ataupun
muda.
Kenapa kita harus percaya diri dan tidak putus asa ? Tidak
banyak orang yang sadar bahwa kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh cara
berfikirnya. Apabila ia berfikir atau mempunyai gambaran sebagai orang yang
penakut dan pesimis, maka gambaran tersebut akan mempengaruhi seluruh potensi
dirinya yang ada sebagai seorang yang penakut. Ketakutan dan keputusasaan
seseorang dalam mencari rahmat Allah adalah karena ketidakmampuan dan
ketidakyakinan orang tersebut dalam menghadapi masalah tersebut.
B.
Q.S
AL-Hijr/5 : 52-56
52. Ketika mereka masuk mendapatkannya lalu
memberi salam dengan berkata: "Selamat sejahtera kepadamu!" Ia
berkata: "Sesungguhnya kami berasa takut kepada kamu".
53.
Mereka menjawab: "Janganlah engkau takut, sebenarnya kami hendak
mengembirakanmu dengan berita bahawa engkau akan beroleh seorang anak lelaki
yang bakal menjadi seorang yang berilmu".
54.
Nabi Ibrahim berkata: "Betulkah kamu mengembirakan daku (dengan berita
yang demikian), padahal aku telah tua; maka dengan jalan apakah kamu
mengembirakan daku?"
55.
Mereka menjawab: "Kami mengembirakanmu dengan jalan yang sungguh benar;
oleh itu janganlah engkau menjadi dari orang-orang yang berputus asa".
56.
Nabi Ibrahim berkata: "Dan tiadalah sesiapa yang berputus asa dari rahmat
Tuhannya melainkan orang-orang yang sesat".
J
Penjelasan
Kata “Wajilun” terambil dari kata “Wajal” yaitu
kegoncangan hati akibat menduga akan terjadi sesuatu yang buruk. Apabila kita
memiliki prasangka buruk kepada Allah SWT, berarti kita menghinakan diri
sendiri dan bersiap untuk menerima keburukan tersebut.
Ajaran Islam adalah ajaran yang positif, menghindari segala
bentuk negative sehingga harus tertanam pada jiwa kita bahwa alasan apapun yang
menggiring kita pada sikap pesimistis adalah bertentangan dengan ajaran islam
sendiri.
Berfikir positif akan memberikan dorongan sikap dan tingkah
laku yang positif pula. Jiwa yang positif tampak bergairah penuh antusiasme dan
keberanian yang sangat mendalam, dalam hidupnya tidak ada kata putus asa dan
menyerah, karena bagi Allah semuanya mudah, siapa saja yang Allah kehendaki
pasti dia akan mendapatkan rahmat-Nya, oleh karena itu tidak pantas bagi orang
yang berikhtiar dalam mencari rahmat Allah mempertanyakan apakah usahanya
tersebut akan berhasil atau tidak, karena hal tersebut mengandung keputusasaan.
Sikap percaya diri dan tidak putus asa yang dilandaskan
pada iman, menyebabkan segala bentuk tekanan tidak dijadikan sebagai kendala,
tetapi sebuah tantangan yang akan membentuk kepribadian dirinya menjadi lebih
cemerlang. Sebaliknya orang yang memiliki sikap tidak percaya diri, putus asa,
dan pesimis adalah termasuk orang-orang yang putus harapan, fasik dan sesat,
serta kufur.
C.
NILAI – NILAI TARBAWI
Ada beberapa nilai tarbawi yang dapat diambil dari uraian
tersebut diatas :
1)
Sebagai pendidik mengajar dengan
contoh adalah cara efektif agar peserta didik mengembangkan sikap dan
keterampilan social yang diperlukan untuk mengembangkan sikap percaya diri dan
tidak putus asa,
2)
Membengun hubungan yang akrab dari
dalam rumah hingga luar rumah akan membangun rasa percaya diri dan pengenalan
diri.
3)
Pendidik hendaknya memberikan
dukungan kepada peserta didik, karena dukungan merupakan factor utama dalam
membantu peserta didik dalam mengatasi keputus asaan.
4)
Bahwa pesan untuk percaya diri dan
tidak putus asa bukan saja dari yang tua kepada yang muda, melainkan dari yang
berilmu baik yang tua maupun yang muda,
5)
Kepercayaan diri yang sempurna
adalah kepercayaan diri yang terbentuk dari lahir dan bathin yang terus
berkesinambungan, sebagai pendidik tentunya kita dapat meletakan dasar – dasar
percaya diri kepada peserta didik untuk mencapai dasar kepercayaan diri dimasa
yang akan dating.
Begitu juga pada dunia pendidikan diharapkan agar semua
komponen pendidikan untuk percaya diri dan tidak putus asa, sehingga tercapai
tujuan dari pendidikan itu sendiri. Semua komponen pendidikan harus ikhtiar dan
tawakal kepada Allah SWT, karena orang yang tawakal tidak pernah mengalami
frustasi dalam mengarungi kehidupan ini.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tidak semua dari kita mau mengakui bahwa
diri kita putus asa. Namun, apa yang sedang kita alami akan tersirat secara
tidak langsung melalui apa yang kita ucapkan, misalnya keluhan-keluhan dan
ketidakpuasan-ketidakpuasan kita. Hal ini tampak juga ketika kita kehilangan
kepercayaan terhadap orang lain atau kepada diri sendiri.
Sesungguhnya
agama islam memerintahkan agar berserah diri dan ikhlas kepada Allah SWT. Kita
sebagai manusia agar percaya diri dan tidak putus asa untuk terus mencari
rahmat Allah. Banyak manusia yang cepat putus asa bahkan melampiaskannya dengan
bunuh diri, hal itu disebabkan karena pemikirannya yang dangkal dan jauh dari
nilai – nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Kita sebagai manusia wajib
ikhtiar, karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
B.
Kritik
Dan Saran
Demikian yang
dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah
ini , tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karna terbatasnya
Pengetahuan dan kurangnya rujukan dan referensi , penulis berharap kapada para
pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA